AIRLANGGA SEBUT ISTILAH 'RAJA JAWA' MERUPAKAN REFERENSI SEJARAH ATAU SIMBOLIK



JAKARTA- Politikus Partai Golkar, Airlangga Hartarto, memberikan klarifikasi terkait istilah "Raja Jawa" yang disinggung oleh ketua umum baru Golkar, Bahlil Lahadalia, dalam pidato pertamanya. Istilah tersebut sempat menarik perhatian publik dan menjadi bahan perbincangan, terutama karena dikaitkan dengan figur-figur bersejarah di Indonesia.

Menurut Airlangga Hartarto, istilah "Raja Jawa" yang diungkapkan oleh Bahlil merupakan sebuah referensi sejarah atau simbolik yang merujuk pada masa kerajaan kuno di Jawa. Dalam pandangan Airlangga, ungkapan tersebut bukanlah merujuk pada tokoh atau individu tertentu di zaman sekarang, melainkan lebih kepada sebuah konsep atau figur historis yang ada di masa lalu. Airlangga menegaskan bahwa "Raja Jawa" adalah sebuah simbol dari era kerajaan yang dimaksudkan untuk memberikan konteks atau makna tertentu dalam pidato Bahlil.

Airlangga juga menanggapi isu ketidakhadirannya dalam acara Musyawarah Nasional (Munas) Partai Golkar yang baru-baru ini digelar. Ia memilih untuk tidak banyak berkomentar tentang ketidakhadirannya tersebut, namun ia menekankan bahwa pemberian penghargaan dari partai akan dilakukan pada saat perayaan hari ulang tahun (HUT) Golkar, bukan pada saat Munas. Menurutnya, HUT Golkar dan Munas adalah dua acara yang berbeda, dengan HUT menjadi kesempatan untuk merayakan pencapaian dan memberikan penghargaan kepada anggota partai.

Selain itu, Airlangga juga menyinggung masalah gelombang unjuk rasa yang terkait dengan revisi Undang-Undang (UU) No. 10/2016 tentang Pilkada yang terjadi di DPR RI. Ia mengaku tidak terlibat langsung dalam menangani isu tersebut, dan lebih memilih untuk fokus pada peranannya sebagai Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.

Sementara itu, dalam pidatonya, Bahlil Lahadalia mengingatkan bahwa Partai Golkar perlu lebih berhati-hati dan konsisten dalam menghadapi tantangan politik, menggunakan istilah "Raja Jawa" sebagai metafora untuk menggambarkan pentingnya kewaspadaan dan ketegasan. Bahlil menekankan bahwa jika partai bermain-main, bisa berpotensi membawa dampak buruk. Meskipun istilah tersebut telah menimbulkan berbagai interpretasi, Airlangga Hartarto memastikan bahwa makna sesungguhnya dari istilah tersebut adalah sebagai referensi sejarah atau simbolik yang tidak mengacu pada individu masa kini.

Dengan penjelasan ini, diharapkan akan ada pemahaman yang lebih jelas mengenai penggunaan istilah "Raja Jawa" dan konteks yang dimaksud dalam pidato Bahlil Lahadalia.

Komentar